Perbedaan Understeer dan Oversteer: Ini Gejala & Penyebabnya

Perbedaan understeer dan oversteer terlihat dari respons mobil dan roda yang kehilangan cengkeraman. Ini penyebab dan cara mengatasinya.

Agustus 31, 2026
apa itu understeer

Perbedaan understeer dan oversteer terlihat dari respons kendaraan terhadap arah kemudi yang Anda berikan.

Saat mengalami understeer, kendaraan berbelok lebih sedikit dari arah yang Anda inginkan, sehingga bagian depan cenderung melebar keluar dari tikungan. 

Sebaliknya, saat oversteer, kendaraan berbelok lebih banyak karena bagian belakang cenderung bergeser keluar.

Di beberapa kondisi, keduanya berkaitan dengan berkurangnya cengkeraman ban. Understeer umumnya terjadi ketika ban depan tidak mampu menghasilkan gaya belok yang dibutuhkan, sedangkan oversteer sering berkaitan dengan berkurangnya cengkeraman ban belakang.

Kondisi tersebut dipicu oleh kecepatan masuk tikungan yang terlalu tinggi, permukaan jalan licin, perubahan gas atau rem secara mendadak, hingga kondisi ban yang kurang optimal. 

Oleh karena itu, memahami karakter understeer dan oversteer sangatlah penting. Tujuannya agar Anda dapat mengambil tindakan yang tepat ketika kendaraan mulai kehilangan kestabilan.

BACA JUGA: Traffic Jam Assist: Cara Kerja & Manfaatnya di Kemacetan Kota
 

Perbedaan Understeer dan Oversteer


Secara teknis, understeer dan oversteer merupakan bagian dari dinamika kendaraan. 

Istilah yang berkaitan dengan dinamika kendaraan dan kemampuan mempertahankan arah juga dibahas dalam standar internasional ISO 8855:2011 tentang Vehicle Dynamics and Road-Holding Ability.

Berikut gambaran perbedaannya secara ringkas.
 

Aspek

Understeer

Oversteer

Respons kendaraanBerbelok lebih sedikit dari yang diinginkanBerbelok lebih banyak dari yang diinginkan
Area yang cenderung kehilangan cengkeramanBan depanBan belakang
Gerakan kendaraanBagian depan melebar keluar tikunganBagian belakang bergeser keluar tikungan
Sensasi pada pengemudiMobil terasa enggan mengikuti arah setirBuritan terasa membuang atau berputar
Lebih umum padaKendaraan FWDKendaraan RWD
Respons dasarKurangi kecepatan dan sudut kemudi secara halusKoreksi arah secara halus dan hindari input mendadak


Perlu diperhatikan bahwa hubungan antara FWD dengan understeer serta RWD dengan oversteer hanyalah kecenderungan, bukan aturan mutlak. 

Mobil FWD, RWD, maupun AWD tetap dapat mengalami kedua kondisi tersebut tergantung kecepatan, kondisi jalan, karakter sasis, ban, distribusi beban, dan tindakan pengemudi.
 

Apa Itu Understeer?


Understeer adalah kondisi ketika kendaraan berbelok lebih sedikit dari arah yang diinginkan.

Kondisi ini paling mudah dikenali ketika Anda sudah mengarahkan kemudi mengikuti tikungan, tetapi bagian depan mobil justru melebar ke sisi luar tikungan.

Hal tersebut umumnya terjadi ketika ban depan telah mencapai batas cengkeramannya. Ban depan tidak hanya menopang bobot kendaraan, tetapi juga menghasilkan gaya untuk mengubah arah mobil. Pada kendaraan FWD, ban depan juga menyalurkan tenaga penggerak, sehingga beban kerja dan tuntutan terhadap cengkeramannya semakin besar.

Namun, understeer tidak hanya terjadi pada kendaraan FWD. Kendaraan dengan sistem penggerak lain juga dapat mengalaminya ketika gaya yang dibutuhkan dari ban depan melebihi kemampuan cengkeramannya.
 

Gejala Understeer yang Dirasakan Pengemudi


Selain kendaraan terasa melebar, beberapa gejala understeer yang bisa dirasakan meliputi:
 

• Arah mobil tidak mengikuti sudut kemudi seperti yang diharapkan
• Kemudi terasa kurang responsif
• Ban depan dapat mengeluarkan suara gesekan pada kondisi tertentu
• Menambah putaran setir tidak serta-merta membuat kendaraan berbelok lebih tajam

Pada kondisi tersebut, terus menambah sudut kemudi justru membuat ban depan semakin sulit memulihkan cengkeramannya.
 

Apa Itu Oversteer?


Oversteer adalah kondisi ketika kendaraan berbelok lebih banyak dari yang diinginkan pengemudi.

Kondisi tersebut biasanya terjadi ketika cengkeraman ban belakang menurun. Akibatnya, bagian depan kendaraan berputar lebih jauh ke arah tikungan dibandingkan arah yang diperintahkan melalui kemudi.

Oversteer lebih sering diasosiasikan dengan kendaraan RWD, karena tenaga penggeraknya disalurkan melalui roda belakang. Penggunaan tenaga berlebihan ketika sedang menikung dapat menyebabkan ban belakang mencapai batas cengkeramannya.

Namun, oversteer juga dapat terjadi pada kendaraan dengan konfigurasi penggerak lain. Salah satu penyebabnya adalah perpindahan beban secara mendadak dari belakang ke depan, akibat pengereman keras atau pelepasan pedal gas secara tiba-tiba.
 

Gejala Oversteer yang Dapat Dirasakan Pengemudi


Beberapa tanda oversteer yang dapat dirasakan meliputi:
 

• Arah kendaraan berputar lebih cepat dari yang diinginkan
• Anda perlu melakukan koreksi kemudi agar kendaraan kembali mengikuti jalur
• Mobil terasa berpotensi berputar apabila selip semakin besar
• Cengkeraman ban belakang terasa menurun


Pada kondisi ekstrem, oversteer yang tidak terkoreksi menyebabkan kendaraan berputar atau kehilangan arah.
 

Mengapa Understeer dan Oversteer Bisa Terjadi?


Ban memiliki batas dalam menghasilkan gaya ke permukaan jalan. Saat menikung, ban harus menghasilkan gaya lateral untuk mengubah arah kendaraan. Pada saat yang sama, ban juga menerima tuntutan akibat akselerasi maupun pengereman.

Semakin besar kombinasi gaya yang diminta, semakin dekat ban dengan batas cengkeramannya. Beberapa faktor berikut membuat batas tersebut tercapai lebih cepat.
 

1. Kecepatan Terlalu Tinggi Saat Memasuki Tikungan


Kecepatan merupakan salah satu faktor terbesar.

Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar gaya yang dibutuhkan agar mobil mengikuti lengkungan jalan. Jika kebutuhan tersebut melebihi kemampuan cengkeraman ban depan, kendaraan akan mengalami understeer. 

Sebaliknya, apabila ban belakang kehilangan cengkeraman terlebih dahulu, kendaraan bisa mengalami oversteer.

Oleh karena itu, mengurangi kecepatan sebelum memasuki tikungan merupakan langkah yang bijak, daripada melakukan pengereman keras ketika kendaraan sudah berada di tengah tikungan.
 

2. Akselerasi, Pengereman, atau Gerakan Kemudi yang Mendadak


Perubahan pedal gas dan rem turut memengaruhi distribusi beban kendaraan.

Ketika mengerem, beban cenderung berpindah ke bagian depan. Sebaliknya, ketika berakselerasi, sebagian beban berpindah ke belakang. Perubahan yang terlalu mendadak ketika mobil sedang menikung akan mengurangi cengkeraman salah satu poros.

Sebagai contoh, pelepasan pedal gas atau pengereman secara agresif di tengah tikungan akan mengurangi beban pada ban belakang dan meningkatkan kecenderungan oversteer. 

Sementara itu, akselerasi berlebihan pada kendaraan FWD ketika sedang menikung, dapat membuat ban depan harus membagi kemampuan cengkeramannya, antara menarik kendaraan dan mengubah arah.
 

3. Kondisi Jalan yang Licin


Air hujan, lumpur, pasir, kerikil, oli, atau material lain pada permukaan jalan bisa mengurangi koefisien gesekan antara ban dan jalan.

Akibatnya, ban dapat mencapai batas cengkeramannya pada kecepatan yang lebih rendah dibandingkan saat berkendara di jalan kering.

Pengemudi perlu menjaga jarak pengereman lebih jauh serta melakukan akselerasi, pengereman, dan input kemudi secara halus ketika kondisi jalan memiliki cengkeraman rendah.
 

4. Kondisi dan Tekanan Ban


Ban merupakan titik kontak kendaraan dengan permukaan jalan, sehingga kondisinya memengaruhi kemampuan kendaraan saat berbelok.

Tapak yang sudah aus, tekanan ban yang tidak sesuai rekomendasi, perbedaan kondisi antara ban depan dan belakang, serta jenis ban yang tidak sesuai dapat memengaruhi keseimbangan cengkeraman.

Pemeriksaan tekanan dan kondisi ban secara rutin merupakan cara sederhana untuk mengurangi risiko kendaraan kehilangan kestabilan.
 

Cara Mengatasi Understeer


Jika kendaraan mulai mengalami understeer, hindari refleks untuk semakin memutar kemudi. Menambah sudut kemudi ketika ban depan sudah berada di batas cengkeraman tidak selalu membuat kendaraan berbelok lebih tajam.

Langkah yang lebih tepat adalah:
 

• Kurangi tekanan pada pedal gas secara bertahap
• Hindari pengereman mendadak
• Kurangi sudut kemudi secara perlahan agar ban depan memperoleh cengkeramannya kembali
• Arahkan pandangan ke jalur yang ingin dituju
• Setelah cengkeraman kembali, arahkan kendaraan secara halus mengikuti tikungan


Panduan dari Continental mengenai understeer dan oversteer juga menekankan pentingnya mengurangi akselerasi secara lembut serta tidak terus menambah sudut kemudi ketika mengalami understeer.

Respons tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kendaraan, permukaan jalan, dan situasi lalu lintas di sekitar.
 

Cara Mengatasi Oversteer


Penanganan oversteer memerlukan respons yang halus. Perubahan kemudi, gas, atau rem yang terlalu agresif justru berisiko menyebabkan selip.

Ketika bagian belakang kendaraan mulai bergeser, Anda perlu:

• Tetap tenang dan arahkan pandangan ke jalur yang ingin dituju
• Takukan koreksi kemudi secara halus ke arah yang diperlukan untuk menahan putaran kendaraan
• Menghindari pengereman mendadak
• Menghindari perubahan pedal gas secara ekstrem
• Meluruskan kembali kemudi secara bertahap ketika kendaraan mulai mendapatkan cengkeramannya

Misalnya, jika bagian belakang kendaraan bergeser ke kanan dan bagian depan mulai berputar ke kiri, arahkan kemudi ke kanan secara proporsional untuk menahan putaran tersebut. Teknik ini sering disebut countersteering.

Namun, besarnya koreksi harus disesuaikan dengan tingkat selip. Koreksi yang terlalu besar menyebabkan kendaraan berayun ke arah sebaliknya.

Teknik pemulihan kehilangan kendali sebaiknya dipelajari melalui pelatihan mengemudi di area tertutup dan terkendali, bukan dipraktikkan secara sengaja di jalan umum.
 

Cara Mencegah Understeer dan Oversteer


Pencegahannya dilakukan dengan menjaga ban tetap berada dalam batas cengkeramannya. Beberapa kebiasaan yang dapat membantu, yakni:

• Sesuaikan kecepatan sebelum memasuki tikungan
• Hindari perubahan gas, rem, dan kemudi secara agresif ketika sedang berbelok
• Berikan jarak lebih besar ketika jalan basah atau licin
• Periksa tekanan dan kondisi tapak ban secara rutin
• Gunakan ban sesuai spesifikasi kendaraan
• Hindari mematikan sistem kontrol stabilitas pada penggunaan jalan sehari-hari
 

Peran ESP dan ABS Ketika Kendaraan Kehilangan Kestabilan


Mobil modern menggunakan berbagai sistem keselamatan aktif untuk membantu pengemudi mempertahankan kendali. 

Dua teknologi yang sangat relevan dengan dinamika kendaraan adalah Electronic Stability Program (ESP) dan Anti-lock Braking System (ABS).
 

1. Electronic Stability Program 


ESP membaca sejumlah parameter, termasuk sudut kemudi, kecepatan roda, rotasi kendaraan, dan percepatan lateral.

Sistem kemudian membandingkan arah yang diinginkan pengemudi dengan gerakan kendaraan yang sebenarnya.

Bosch Mobility membandingkan pergerakan aktual kendaraan dengan arah yang diminta pengemudi hingga 25 kali per detik. Jika kendaraan mulai bergerak tidak sesuai arah tersebut, sistem dapat mengurangi torsi mesin dan memberikan pengereman di roda tertentu untuk menghasilkan momen koreksi.

Ketika kendaraan mengalami kecenderungan understeer atau oversteer, intervensi tersebut membantu mengembalikan kestabilan kendaraan dalam batas kemampuan sistem dan cengkeraman yang tersedia.

Artinya, ESP merupakan sistem bantuan, bukan teknologi yang meniadakan batas-batas fisika kendaraan.
 

2. Anti-lock Braking System 


Ketika sistem mendeteksi sebuah roda akan mengunci akibat pengereman keras, tekanan rem di roda tersebut dapat dikurangi dan dinaikkan kembali dengan cepat.

Masih menurut Bosch Mobility, mekanisme ini membuat roda tetap berputar, sehingga kendaraan masih dapat diarahkan ketika melakukan pengereman darurat.

Oleh sebab itu, ABS tidak secara khusus dirancang untuk "menghilangkan understeer". Tugasnya adalah mencegah roda terkunci dan mempertahankan kemampuan kemudi selama pengereman.
 

Teknologi JAECOO J7 SHS-P 


JAECOO J7 SHS-P mengombinasikan sistem keselamatan kendaraan dengan berbagai teknologi bantuan pengemudi.

Selain ESP dan ABS, JAECOO J7 SHS-P menampilkan Adaptive Cruise Control yang terintegrasi dengan Curve Speed Assist, Traffic Jam Assist, Blind Spot Detection, Driver Monitoring System, Rear Cross Traffic Alert & Rear Cross Traffic Braking, Forward Collision Warning & Autonomous Emergency Braking, serta Emergency Lane Keeping.

Curve Speed Assist berfungsi untuk mengelola kecepatan kendaraan ketika fungsi terkait sedang aktif dan kondisi operasional sistem terpenuhi. Namun, teknologi tersebut tetap berbeda dari ESP yang bekerja langsung pada dinamika kestabilan kendaraan.

Begitu pula dengan ADAS. Fungsinya untuk membantu pengemudi mendeteksi potensi bahaya, menjaga jarak, atau mendukung posisi kendaraan. Jadi, bukan untuk menggantikan teknik mengemudi ketika ban telah mencapai batas cengkeramannya.

BACA JUGA: Review JAECOO J7 SHS-P: Sensasi Futuristik di Setiap Perjalanan
 

Berkendara Semakin Percaya Diri bersama JAECOO J7 SHS-P!


Perbedaan understeer dan oversteer terletak pada respons kendaraan terhadap kemudi. Understeer membuat kendaraan cenderung melebar keluar tikungan, karena bagian depan tidak mengikuti arah yang diinginkan, sedangkan oversteer membuat bagian belakang bergeser, sehingga kendaraan berputar lebih banyak.

Keduanya dipicu oleh kecepatan, kondisi jalan, cengkeraman ban, perpindahan bobot, serta input pengemudi. 

Oleh sebab itu, menjaga kecepatan sebelum memasuki tikungan serta melakukan pengereman, akselerasi, dan mengemudi secara proporsional tetaplah penting untuk mempertahankan kestabilan.

JAECOO J7 SHS-P turut dilengkapi sistem keselamatan dan bantuan pengemudi yang mendukung kontrol kendaraan di setiap kondisi perjalanan.

Apabila Anda tertarik untuk merasakan karakter berkendara dan teknologi JAECOO J7 SHS-P, kunjungi dealer JAECOO terdekat untuk menjadwalkan test drive.

JAECOO Indonesia

JAECOO Indonesia

JAECOO Indonesia adalah sub-merek SUV premium dari Chery Group yang berfokus pada kendaraan urban off-road tangguh namun elegan. Jaecoo hadir di Indonesia dengan menawarkan teknologi canggih seperti Super Hybrid System (SHS), fitur ADAS, dan kenyamanan premium.